Sabtu, 07 April 2018

Jejak Kekeramatan Gunung Karang

Gunung Karang
Namanya saja gunung, tentunya banyak masyarakat yang mengeramatkan, terutama masyarakat sekitar di wilayah Gunung tersebut. Kenapa? Gunung Karang merupakan nama sebuah gunung tertinggi di Banten yang terletak di Kabupaten Pandeglang. Gunung Karang termasuk dalam deretan gunung yang masih aktif di Indonesia dan bisa berpotensi meletus. Namun, warga setempat yang tinggal di daerah puncak Gunung Karang tampak tak terlalu memedulikan potensi gunung meletus yang sangat mungkin terjadi.

Memang sudah bukan rahasia lagi bahwa Gunung Karang yang ada di Banten telah dikeramatkan oleh warganya. Hal tersebut tak lepas dari sejarah di masa lalu yang membuat gunung keramat itu begitu istimewa.
Apabila melihat perkampungan yang ada di sekitar puncak Gunung Karang, tepatnya di kampung Pasirangan, Anda mungkin akan bertanya-tanya mengapa kondisinya begitu rapat dan ada banyak gang-gang kecil. Keadaan ini tak lepas dari sejarah para nenek moyang mereka saat menentukan kampung ini layak untuk dihuni.
Konon, nenek moyang mereka menggunakan belalang yang dimasukkan ke dalam botol lalu dipendam ke beberapa titik di sekitar puncak gunung dan dibiarkan selama 1 malam. Keesokan harinya, dari beberapa titik tersebut ternyata belalang yang masih hidup di dalam botol hanya ada di 1 tempat saja. Tempat itu diyakini nantinya akan jauh dari musibah, bencana, maupun petaka dan kini tempat itu bernama kampung Pasirangan.
Tidak hanya itu, mengenai bencana yang bisa saja timbul dari gunung meletus ditampik oleh warga karena mereka yakin bahwa Gunung Karang telah dijaga ketat oleh para wali. Memang di kawasan puncak gunung terdapat beberapa pondok pesantren dan juga

ada masjid tertua di Banten dansumur keramat.
Masjid di sana bisa disebut juga sebagai masjid keramat karena meski terbuat dari kayu nangka, bangunan itu tetap berdiri kokoh hingga saat ini. Selain menunaikan ibadah, banyak orang yang sengaja mendatangi masjid tua Gunung Karang untuk tirakat yang konon lebih cepat dikabulkan oleh Allah SWT.

Di sisi lain, sumur keramat yang ada di Gunung Karang adalah Sumur Tujuh yang konon memang berjumlah 7 di puncak sana. Sumur itu dipercaya mampu membuang aura negatif yang melekat pada diri seseorang. Ketenaran sumur tujuh dalam membuang aura negatif memang sudah terdengar sampai di luar Banten, jadi tak heran jika di sana Anda akan bertemu peziarah dari kota-kota besar lainnya.
Jeng Asih, Ratu Pembuka Aura dari Gunung Muria




Info & pemesanan:
Padepokan Metafisika Jeng Asih
Jl. Diponegoro 72, Pati – Jawa Tengah 
Jl. Melawai Raya 17, Blok M – Jakarta Selatan
08129358989 – 08122908585      


Menelisik Keangkeran Jembatan Cangar

Sudah tidak asing lagi kalau sebuah jembatan di mana saja akan memiliki nuansa wingit, dan tambahan lagi dengan bumbu-bumbu mistisnya. Hingga menambah rasa angker dan penasaran bagi masyarakat umum yang  melintasinya.

Halnya dengan jembatan Cangar yang berlokasi di antara Mojokerto dan Cangar, Batu. Perjalanan Mojokerto – Batu memang akan terasa lebih cepat jika melewati jembatan ini, namun tak sedikit pula yang memilih melewati rute panjang ketimbang lewat sini.
Mereka yang memilih rute panjang lebih dikarenakan ingin ‘jalur aman’ agar sampai tujuan. Apakah yang dimaksud dengan ‘jalur aman’? Pernyataan tersebut ternyata merujuk pada Jembatan Cangar yang menurut kabar, terkenal akan keangkerannya.
Jembatan Cangar angker karena seringnya kecelakaan yang konon disebabkan oleh makhluk-makhluk gaib yang ada di sana. Jalanan di sana akan terasa sangat wingit ketika hari menjelang malam, kabut terasa serasa semakin tebal, dan jarak pandang Anda akan serasa diuji. Sudah banyak orang yang mengaku pernah hampir masuk jurang akibat diganggu oleh makhluk halus.

Kejadian yang sering dialami adalah jalanan yang mulanya tebal kabut mendadak sedikit terang dan tiba-tiba tampak jalanan lurus. Jika mengikuti jalanan lurus padahal semestinya belok, maka bisa dipastikan bahwa makhluk halus di sana ‘memandu’ perjalanan Anda menuju kematian. Oleh karena itu, banyak yang menyarankan agar ketika akan lewat sana, hendaknya pikiran si pengemudi dalam keadaan bersih sehingga tidak akan melamun saat jembatan angker tersebut.

Hutan-hutan yang ada di sepanjang perjalanan menuju ke Jembatan Cangar pun terasa kemistisannya. Banyak pengendara yang mengaku pernah melihat sosok penampakan tinggi besar berwarna hitam yang diduga kuat genderuwo. Jadi, jika Anda ingin melewati salah satu tempat angker di Mojokerto ini, ada baiknya di pagi atau siang hari agar terhindar dari kecelakaan gaib.


Jeng Asih, Ratu Pembuka Aura dari Gunung Muria




Info & pemesanan:
Padepokan Metafisika Jeng Asih
Jl. Diponegoro 72, Pati – Jawa Tengah 
Jl. Melawai Raya 17, Blok M – Jakarta Selatan
08129358989 – 08122908585       



Selasa, 05 September 2017

Curug Cijalu Di Kenal Sangat Angker

Curug Cijalu yang Angker

Tempat wisata air terjun bernama Curug Cijalu yang berada di Desa Cipancar, Kecamatan Serangpanjang, Subang, ternyata terkenal karena memiliki keindahan alam menawan. Tiupan angin dingin yang menyeruak di antara pepohonan serta gesekan lembut daun-daun, menambah sensasi syahdu ketika berada di sana.


Akan tetapi, dibalik keindahan Curug Cijalu, beberapa orang menganggap lokasi tersebut sebagaitempat keramat. Anggapan tersebut tentu tak serta merta saja diberikan oleh masyarakat karena memang ada beberapa hal yang membuat Curug Cijalu terasa kekeramatannya.

Sekitar tahun 1980an silam, pengunjung pertama Curug Cijalu adalah seorang dari Indramayu. Menurut berita yang beredar, ia sengaja mendatangi Curug Cijalu untuk melakukan semedi serta memandikan tubuhnya dengan air di sana. Harapan dari ritual yang ia lakukan adalah kesembuhan bagi serangan kelumpuhan yang ia derita. Dan benar saja, setelah menjalani ritual semedi dan mandi, ia kembali sehat dan sembuh dari segala penyakitnya.

Khabar tentang air keramat dari Curug Cijalu ini seketika menjadi ramai diperbincangkan dan terus menerus mendapat kunjungan dari warga Indramayu dan sekitarnya. Meski jalanan yang harus ditempuh tidaklah mudah, namun tidak menjadikan keinginan untuk ke tempat keramat di Subangluntur. Jadi wajar saja hingga saat ini Curug Cijalu tetap ramai pengunjung.
Kendati demikian, ada saja yang memberitakan bahwa Curug Cijalu adalah sebuah tempat angkerkarena beberapa orang mengaku pernah melihat atau pun mendengar suara gaib saat berkemah di sekitar sana. Ada yang bilang melihat sosok kakek-kakek dan ada juga yang mendengar suara keramaian padahal tidak ada apa-apa di sana. Beranikah Anda mencobanya?

Jeng Asih, Ratu Pembuka Aura dari Gunung Muria




Info & pemesanan:
Padepokan Metafisika Jeng Asih
Jl. Diponegoro 72, Pati – Jawa Tengah 
Jl. Melawai Raya 17, Blok M – Jakarta Selatan
08129358989 – 08122908585      


Minggu, 03 September 2017

Misteri keangkeran Alas Roban

Alas Roban
Alas Roban, merupakan hutan kecil di sebuah Kecamatan Gringsing, kecamatan yang terletak paling timur di Kabupaten Batang - Jawa Tengah.

 Jalanan yang begitu menanjak dan berkelok di sebuah bukit dengan rindangnya pepohonan jati berukuran besar. Jalur yang dikenal angker karena banyak kejadian yang tak lazim dan banyaknya kecelakaan. Di jalur lama (tengah) terdapat tugu keselamatan. Tak jauh dari itu terdapat makam petilasan Syekh Jangkung yang dulu pernah berkuasa di daerah itu, namun nisan untuk memperingatinya tumbang di dekat salah satu pohon jati yang cukup besar.
Sesaji Di Tengah Alas Roban
Roban berasal dari kata ‘rob’ yang berarti air naik, kata ini sangat dikenal oleh masyarakat pesisiran. 

Kampung Roban sendiri ada di Kecamatan Subah. Roban berada di daerah pantai Laut Jawa. Suasana tempat ini hingga sekarang masih saja diselimuti hawa mistik yang kental. Perkampungan Roban dahulu dikenal dengan Roban Siluman. 

Konon pada waktu yang telah lampau, masyarakat Roban banyak yang memiliki ilmu tinggi hingga dapat merubah dirinya sebagai buaya. Dari sinilah dikenal siluman buaya yang menjadikan Roban sebagai Roban Siluman. Namun demikian Alas Roban dan Roban memiliki peran penting jika dilihat dari sejarahnya. Kabupaten Batang dahulu dikenal sebagai kawasan Alas Roban yang masih sepi belum seramai pemukiman penduduk sekarang ini. Alas Roban dikenal dengan tempatnya para siluman, lelembut, dan garong (perampok).
Kawasannya terhitung mulai Perbatasan Kabupaten Kendal dengan Kabupaten Batang saat ini hingga Kota Pekalongan. Pada jaman Pemerintahan Sultan Agung Mataram Islam sekitar tahun 1620an, terjadi penolakan paham antara VOC dan Mataram yang sebelumnya menjalin diplomasi dalam kawasan dan penyediaan persenjataan. Sultan Agung bermaksud menggempur VOC yang berada di Batavia. Pasukan yang terlibat dalam penyerangan berasal dari berbagai tempat di Jawa.  
Untuk dapat mendukung persediaan logistik maka dibangun pos-pos pendukung logistik di berbagai tempat yang salah satunya di Alas Roban. Dalam membangun pos di Alas Roban, Sultan Agung mengutus Ki Bahurekso untuk membuka Alas Roban. Pembukaan konon dimulai dari Kecamatan Subah ke arah barat. Hal ini dimaksudkan untuk membuka lahan yang akan digunakan untuk menanam berbagai macam sumber makanan untuk mendukung kebutuhan logistik.


Pada saat berada di Kali Lojahan (Kramat), Bahurekso berencana membuat bendungan. Namun di tempat yang akan di bangun bendungan terdapat kayu besar yang melintang di sungai. Kemudian beliau bertapa pada Malam Jum’at Kliwon untuk mendapatkan bantuan kekuatan. Kemudian kayu dapat diangkat dan dihancurkan, peristiwa ini disebut Ngembat Watang (Mengangkat Kayu) yang kemudian dijadikan nama Batang. Peristiwa pertapaan Ki Bahurekso kemudian diperingati dengan acara Kliwonan yang dilaksanakan setiap Jum’at Kliwon di Alun-Alun Kota Batang. 

Pos yang dibangun diperkirakan berada di daerah Balekambang, Gringsing. Di sini terdapat pesanggrahan yang diyakini peninggalan Sultan Mataram. Ditambah dengan adanya patung ular yang mirip dengan Hardowaliko yang dipamerkan di Kraton Mataram Jogjakarta namun tanpa mahkota. Balekambang adalah sebuah bangunan diatas sumber mata air yang muncul dari tanah. Di sekitarnya terdapat rawa yang cukup luas yang kini berubah menjadi persawahan. Dapat dilihat dengan jelas bahwa persawahan di sekitarnya adalah sawah yang berdiri diatas bekas rawa karena tekstur tanahnya. Balekambang kemudian dijadikan sumber irigasi untuk sawah yang luas. 
Jalur Tengah (lama) Alas Roban dibangun oleh Belanda, tak jauh dari jalur lama itu terdapat Goa Jepang. Goa Jepang dibangun sekitar tahun 1942 oleh Jepang. Di Batang ditemukan 2 Goa Jepang yaitu di Alas Roban dan Pantai Roban. Goa Jepang di Alas Roban terdapat sekitar 13 mulut goa buatan saat romusha dan 1 goa alami. 1 goa berkedalaman 30 meter lebih, dan 12 lainnya antara 5-20 meter letaknya berjajar di dekat sungai kecil. 1 goa alami terletak di atas bukit. Untuk goa buatan yang berkedalaman 30 meter lebih konon dapat menampung 8 tank ukuran tank saat itu. 

Sungai kecil yang ada di dekat goa ternyata adalah bekas jalur tank yang menghubungkan jalur lama dengan jalur lingkar yang baru dibangun tahun-tahun lalu. Goa Pantai Roban dibangun sekitar 1942 dan digunakan hingga tahun 1948 oleh Jepang. Goa Pantai Roban ini terletak didekat Kali Ngodek yang cukup lebar dan berkedalaman 20 meter. 

Menurut saksi mata dahulu ini dijadikan pelabuhan Jepang saat memperebutkan Indonesia dengan Belanda. Goa tersebut dijadikan persembunyian oleh jepang. Jepang pada tahun 1945 saat kemerdekaan RI belum pergi dari Indonesia, mereka baru pergi dari Indonesia setelah sekutu melepaskan bom atom ke kota Nagasaki dan Hirosima.
Misteri Alas Roban( Rute Paling Menyeramkan ) Meski terkenal sebagai kawasan hutan jati ‘spooky' di Jawa Tengah , tempat ini punya cerita tersendiri . Khususnya di ‘zaman silam', ketika ruas baru Alas Roban yang dibangun Pemerintah Indonesia belum ada. Semua jenis kendaraan, mulai bus umum, truk sampai kendaraan pribadi harus melintasi rute ini. Salah satu kebiasaan yang dilakukan orangtua saya ketika kami -putra-putrinya-masih kecil adalah berwisata dengan mobil pribadi dari Jawa Timur ke Jawa Tengah saat liburan sekolah anak-anak. Dan itu artinya melintasi rute sepanjang Pantura dari Surabaya sampai Semarang, ditambah Jogjakarta, Solo sampai Temanggung dan Parakan. Salah satu rute favorit kami sebagai anak-anak di bawah limabelas tahun adalah Alas Roban, lengkap dengan segala kisah ‘spooky' yang dimilikinya. Seperti kondisinya sebagai bagian dari Grote Postweg, jalanan licin tanpa penerangan di malam hari dengan lintasan berliku-liku alias meliuk-liuk yang bisa bikin perut mual, sampai begal atau rampok yang menunggu di tempat-tempat strategis. Termasuk juga ‘wingitnya' atau seramnya si hutan sendiri dalam deskripsi visual. Sebelum masuk hutan dan sesudah keluar hutan, terdapat begitu banyak resto dan warung makanan. Termasuk sate kambing muda Subali di daerah Subah yang cukup terkenal itu. Tapi begitu masuk hutan sejauh 1 km, tak ada warung apapun yang bisa dijadikan tempat ‘ngiras' atau mengudap makanan.
Jelajah Keangkeran Alas Roban, Batang, Jawa Tengah. Adakah perjalanan yang lebih menyeramkan yang melebihi perjalanan melewati Alas Roban? Zaman dulu Alas Roban terkenal angker, gung liwang-liwung, gawat keliwat liwat menjadi momok menakutkan bagi masyarakat ataupun sopir ketika melewatinya. Bagaimana dengan sekarang? Misteri apa sebenarnya yang menyelimuti hutan angker ini? Menuju Alas Roban dari Semarang, bisa ditempuh 2 jam perjalanan dengan mengendarai sepeda motor. Setelah perbatasan Kendal di sebelah barat, alas itu bisa dicapai kira-kira lima belas menit perjalanan. Ada dua jalur yang harus dipilih ketika sampai di Desa Kutosari.

Kalau Anda melewati Alas Roban yang sebenarnya, maka ambil jalur kanan. Dari jalur sebelah kanan ini, jalur lurus yang ditempuh juga akan menemui muara 2 jalur lagi. Nah, jalur yang terkenal menyeramkan adalah jalur yang sebelah kiri. Sebenarnya, saat ini jalur Alas Roban terbagi menjadi tiga. Jalur yang pertama melewati sisi selatan, dengan jalanan menanjak dengan beton putih. Jalur ini dimulai dari Desa Kutosari seperti yang disebutkan di atas. Jalan ini baru dibangun sekitar tahun 2000-an. Kemudian jalur yang kedua, ini dimulai dari Desa Plelen. Jalur dari Plelen ini bercabang dua. Jalur asli Alas Roban yang terletak di kiri. Sementara jalur yang kanan atau jalur yang ketiga, berada di sisi utara yang dibangun sekitar tahun 1990-an.
Keangkeran Alas Roban memang sudah terkenal sejak dulu. Utamanya ketika dua jalur di sisi selatan dan utara belum dibangun. Setiap pengendara pasti mengalami peristiwa yang berbeda-beda ketika melewatinya. Hal ini karena memang jalanan yang turun-naik, menikung tajam, dengan kiri kanan terdapat tebing atau jurang. Tetapi bukan itu sebenarnya yang menyeramkan. Dahulu, ketika akan lewat jalur ini akan melewati dua tantangan sekaligus. Tantangan pertama, tantangan yang kelihatan mata, yaitu adanya gerombolan penjahat dan bajing loncat yang siap menggasak barang bawaan apa saja. 
Dulu, karena rawannya, kendaraan yang melintas malam hari tidak berani. Untuk kendaraan yang datang dari arah timur atau Semarang berhenti di depan Pasar Plelen. Sementara dari arah barat atau Jakarta, istirahat di Banyuputih. Mereka baru berani melintasi jalan Alas Roban ketika pukul 05.00 WIB. Kalaupun ada yang berani melintas malam hari, harus menunggu kendaraan lainnya. Tantangan yang kedua, tantangan makhluk halus, yaitu gerombalan berbagai makhluk halus yang siap 

”menggoda” siapa saja. Godaan antara sopir yang satu dengan yang lain jelas berbeda. Dan godaan ini bisa berakibat fatal karena seringkali terjadi kecelakaan karena si sopir melihat sesuatu penampakan. Jika menengok ke belakang, jalan raya Alas Roban hanya ada satu, yaitu Jalan Raya Poncowati. Jalan itu dibuat pada era pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-36. Dia memerintah antara tahun 1808 hingga 1811. Dan untuk membangun jalan ini, ribuan orang Indonesia meninggal karena tak kuat. Orang-orang Indonesia dipaksa. Orang-orang yang meninggal tersebut kemudian dikubur begitu saja. Namun demikian, Alas Roban memiliki peran penting jika dilihat dari sejarahnya. Kabupaten Batang dahulu dikenal sebagai kawasan Alas Roban yang masih sepi belum seramai pemukiman penduduk sekarang ini. Alas Roban dikenal dengan tempat para siluman, lelembut, dan garong (perampok). Pada zaman Pemerintahan Sultan Agung Mataram Islam sekitar tahun 1620-an, terjadi penolakan paham antara VOC dan Mataram yang sebelumnya menjalin diplomasi dalam kawasan dan penyediaan persenjataan.


Jeng Asih, Ratu Pembuka Aura dari Gunung Muria




Info & pemesanan:

Padepokan Metafisika Jeng Asih
Jl. Diponegoro 72, Pati – Jawa Tengah 
Jl. Melawai Raya 17, Blok M – Jakarta Selatan
08129358989 – 08122908585       

Nuansa Ritual di Makam Mbah Dowo

Makam Mbah Dowo
Tidak seperti  pada umumnya, makam sepanjang 7 meteran tersebut terletak di tengah belantara hutan jati kawasan Taman Nasional Alas Purwo, Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo, terdapat sebuah makam sepanjang tujuh meter. Rata-rata panjang kuburan di kompleks pemakaman umum tentu menyesuaikan dengan postur tinggi badan orang yang dimakamkan. Tapi kuburan sepanjang tujuh meter ini menimbulkan tanda tanya, apa yang ada di dalamnya?.
Berdasarkan pitutur,  makam yang dikenal dengan nama Kuburan Mbah Dowo (Kuburan Mbah Panjang) tersebut tidak ada bukti tertulis atau sumber sejarah pasti tentang apa yang ada di dalam kuburan tersebut. Namun masyarakat peziarah meyakini, bahwa di dalamnya terdapat benda pusaka peninggalan leluhur.
"Jadi ini belum ada yang tahu sejarah mulanya kapan. Ada yang menyebut ini petilasan (peninggalan pusaka), jadi bukan kuburan seperti umumnya. Petilasan leluhur zaman dahulu," ujar penjaga makam Mbah Dowo, beberapa waktu lalu.
Menurut cerita yang tersebar dari warga sekitar secara turun temurun, kuburan Mbah Dowo sudah ada sebelum pembukaan area Perhutani atau hutan produksi yang pernah dikuasai Kolonial Belanda.
 Bila ingin mengetahui informasi tentang makam lebih lengkap, kata penjaga makam dibutuhkan meditasi. Tujuannya agar bisa berkomunikasi dengan leluhur kuburan Mbah Dowo. Informasi spiritual yang berkembang di masyarakat, nama Mbah Dowo sebenarnya merupakan Eyang Suryo Bujo Negoro. "Macam-macam ceritanya, kalau dari saya itu isinya bukan pusaka, tapi manusia," ujar salah satu warga sekitar area Makam Mbah Dowo.

Konon, berdasarkan keyakinan masyarakat  bahwa di dalam makam Mbah Dowo terdapat  petilasan benda pusaka berupa tombak. "Di situ ada peninggalan seperti pusaka, payung tungul nogo dan pusaka kyai tombak korowelan," kata sang juru kunci makam Mbah Dowo serius..

Untuk menuju lokasi makam Mbah Dowo, pengunjung cukup mencari Kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional Alas Purwo Wilayah I (Kantor PA). Kemudian tepat di samping Kantor PA ada jalan masuk dengan kondisi terjal menuju makam Mbah Dowo. Jarak yang ditempuh kurang lebih 2 kilometer dengan menyusuri hutan pohon jati.

Di lokasi makam Mbah Dowo sudah dilengkapi toilet, musola, pendopo untuk tempat duduk bersama, serta sebuah rumah milik Asmat. Alasan utama Asmat mau mengabdikan diri menjaga dan merawat peninggalan sejarah ini, yakni ingin menguji kesabaran.

"Prinsipku di sini hanya menguji kesabaran. Meski banyak tantangan dan cobaan sampai delapan tahun. Yang jaga sebelum saya, banyak gak kuat kemungkinan ada tingkah yang tidak bagus," ujarnya.

 Makam Mbah Dowo, akan sangat ramai dikunjungi orang dari berbagai daerah. Terutama pada hari-hari sakral seperti Jumat Legi dan malam Satu Suro, (Penanggalan Jawa). Keramaian pengunjung digambarkan sang juru kunci, yaitu pendopo berukuran 5 kali 5 meter, ditambah musola dan rumahnya sendiri sampai dipenuhi orang berziarah.
Tujuan peziarah pun macam-macam, sebagian besar berdoa agar diberi keselamatan, kesehatan dan rezeki yang lancar. "Tapi doanya harus ditujukan ke Tuhan. ini hanya sebagai lantaran melalui leluhur kita, minta barokahnya," jelasnya.


Jeng Asih, Ratu Pembuka Aura dari Gunung Muria




Info & pemesanan:
                                                      Padepokan Metafisika Jeng Asih
                                                   Jl. Diponegoro 72, Pati – Jawa Tengah 
Jl. Melawai Raya 17, Blok M – Jakarta Selatan
   08129358989 – 08122908585   
           
                    https://djengasih.com/blog/tips-merawat-wajah-agar-glowing-mempesona


Senin, 20 Maret 2017

Aura Magis Keraton Ratu Kidul di Goa Langse

Keberadaan Goa Langse dalam catatan setidaknya ada 3 tempat. Yang pertama adalah Goa Langse di Surowiti, Panceng, Gresik, Jawa Timur. Sedangkan Goa Langse selanjutnya adalah di Rahtawu, Kec. Gebog, Kudus, Jawa Tengah. Selanjutnya adalah Goa Langseh yang berada di Giricahyo, Purwosari, Gunung Kidul, Yogyakarta.

Dari ketiga nama yang sama namun berbeda tempat tersebut, mempunyai keunikan masing-masing dan segala hal berbau mitos yang menyungkupinya. Goa Langse yang   pertama, yakni di Surowiti.    Goa Langse   kedua   di Rahtawu   Goa Langse yang terakhir, di Giricahyo, Purwosari, Gunung Kidul.

Sementara yang kita ungkap kali ini adalah Gua Langse di  Giricahyo. Meski  sudah masuk wilayah Gunung Kidul, letaknya tidak jauh dari pantai Parangtritis, Bantul. Bahkan jika cuaca sedang cerah goa ini dapat kita lihat dari pantai Parangtritis. Arahkan pandangan  ke tebing arah timur dari pantai, jika terlihat ada bangunan seperti pendopo kecil nangkring di atas karang, itulah lokasi Goa Langse.

Magis, sacral dan wingit, itulah kesan pertama saat menginjakkan kaki Goa Langse dan seakan perjalan yang menantang untuk mencapai goa ini seakan terbayar lunas, terlebih Anda adalah menyukai tempat-tempat yang hening dan sarat akan mistis. Inilah tempat yang memenuhi kriteria tersebut. Sayangnya, bukan perjalanan yang mudah untuk mencapainya.


Untuk ke Goa Langse ini kita harus bernyali tebal dan tidak phobia pada ketinggian. Perjalanan untuk menuju lokasi Goa ini setidaknya kita akan meniti tebing yang nyaris tegak lurus dengan ketinggian tak kurang dari 400 meter. Maka tak mengherankan, banyak korban yang jatuh saat menuju ke lokasi Goa Langse ini. Pertanyaannya, mengapa Goa yang relatif sulit ini mempunyai daya tarik para peziarah pencari berkah?

Mitosnya, Goa Langse ini diyakini sebagai salah satu keratonnya Kanjeng Ibu Ratu Kidul. Maka tak mengherankan, Goa Langse ini dalam berbagai kesempatan sering dikunjungi oleh para Nata Mataram. Di goa ini juga diyakini pernah bersemedi pula Syekh Siti Jenar, Syech Maulana Maghribi, Danang Sutawijaya atau Panembahan Senopati maupun Sunan Kalijaga.

Dari cerita tutur yang berkembang, keberadaan Goa Langse berawal dari kisah Dewi Nawangwulan. Dewi Nawangwulan adalah bidadari dari kahyangan yang ketika itu dia bersama kakak-kakaknya mandi di Sendang Beji yang ada di Girijati.

Syahdan, ketika para bidadari tersebut mandi, Kidang Telangkas atau yang lebih dikenal dengan nama Jaka Tarub melihatnya. Naluriah laki-laki, melihat banyak wanita cantik mandi lantas tergerak hatinya untuk menyembunyikan seperangkat pakaian yang ternyata milik Dewi Nawangwulan. Saat selesai mandi Dewi Nawangwulan menangis sebab kakak-kakaknya bisa kembali mengangkasa dan pulang ke kahyangan sedangkan Dewi Nawangwulan tidak bisa, karena seperangkat pakaianya di sebunyikan Kidang Telangkas.  

Jeng Asih, Ratu Pembuka Aura dari Gunung Muria




Info & pemesanan:
Padepokan Metafisika Jeng Asih
Jl. Diponegoro 72, Pati – Jawa Tengah 
Jl. Melawai Raya 17, Blok M – Jakarta Selatan
08129358989 – 08122908585  
        

Misteri dan Legenda Rawapening


Rawapening merupakan satu varian yang berasal dari bahasa jawa yaitu “bening”. Rawa pening sendiri dikenal sebagai taman wisata danau yang memiliki luas hamper 2.670 hektar yang terletak di cekungan terendah lereng Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo dan Gunung Ungaran, Danau yang cukup dangkal dan sekaligus menjadi hulu sungai Tuntang.

Berkunjung  ke rawa pening ini anda akan disambut dengan hamparan taman hijau yang dilengkapi dengan sebuah danau yang bening dan sangat memanjakan mata siapa saja yang memandang, view gunung yang terlihat eksotis mampu memberikan sensasi tersendiri saat berada di tempat tersebut, di danau rawa pening ini anda bisa menyewa perahu yang telah banyak disediakan di dermaga tersebut untuk menyusuri seluruh keindahan danau, keindahan alam yang masih alami ini juga menjadi buronan para fotografer professional, so bagi anda yang berencana menyambangi   danau rawapening maka siapkanlah camera anda untuk meng-explore dan mengabadikan momen-momen indah tersebut.

Menyusuri danau rawa pening merupakan hal yang sangat menyenangkan apalagi datang bersama seseorang yang special pastinya sangatlah romantis, suasana sejuk dengan pemandangan tumbuhan enceng gondok, persawahan dan pegunungan akan membuat berlibur anda berkesan dan betah berlama-lama di rawa bening tersebut, tidak hanya keindahannya yang tersohor namun wisata rawa pening ini juga menyimpan sebuah misteri yang melegenda di masyarakat.

Sebuah Cerita  yang Melegenda di masyarakat menyebutkan konon, danau rawa pening dulunya merupakan sebuah Desa yang bernama Malwapati dan desa tersebut hiduplah seorang gadis yang bernama Endang sawitri, dan semua penduduk desa tidak mengetahui bahwa gadis tersebut memiliki suami, namun ia hamil dan melahirkan seekor Naga yang bisa bicara layaknya manusia dan Naga tersebut di beri nbama Baru Klinting, saat anak naga tersebut menginjak ABG dia bertanya pada ibunya “ apa saya mempunyai ayah?” ibunya menjawab “ ayahmu berada di Lereng Gunung Tolomoyo ayahmu adalah seorang raja dan kini waktunya kamu mencari ayahmu bawalah klintingan ini sebagai bukti peninggalan ayahmu dulu” dan pergilah baru klinting untuk mencari bapaknya, Sampai di pertapaan Baru Klinting masuk ke gua dengan hormat, di depan Ki Hajar dan bertanya, “Apakah benar ini tempat pertapaan Ki Hajar Salokantara?” Kemudian Ki Hajar menjawab, “Ya, benar”, saya Ki Hajar Salokantara. Dengan sembah sujud di hadapan Ki Hajar, Baru Klinting mengatakan berarti Ki Hajar adalah orang tuaku yang sudah lama aku cari-cari, aku anak dari Endang Sawitri dari desa Ngasem dan ini Klintingan yang konon kata ibu peninggalan Ki Hajar. Ya benar, dengan bukti Klintingan itu kata Ki Hajar. Namun aku perlu bukti satu lagi kalau memang kamu anakku coba kamu melingkari gunung Telomoyo ini, kalau bisa, kamu benar-benar anakku. Ternyata Baru Klinting bisa melingkarinya dan Ki Hajar mengakui kalau ia benar anaknya. Ki Hajar kemudian memerintahkan Baru Klinting untuk bertapa di dalam hutan lereng gunung.

Suatu hari penduduk desa Malwopati mau mengadakan pesta sedekah bumi setelah panen usai. Mereka akan mengadakan pertunjukkan berbagai macam tarian. Untuk memeriahkan pesta itu rakyat beramai-ramai mencari hewan, namun tidak mendapatkan seekor hewan pun. Akhirnya mereka menemukan seekor Naga besar yang bertapa langsung dipotong-potong, dagingnya dibawa pulang untuk pesta. Dalam acara pesta itu datanglah seorang anak jelmaan Baru Klinting ikut dalam keramaian itu dan ingin menikmati hidangan. Dengan sikap acuh dan sinis mereka mengusir anak itu dari pesta dengan paksa karena dianggap pengemis yang menjijikkan dan memalukan. Dengan sakit hati anak itu pergi meninggalkan pesta. Ia bertemu dengan seorang nenek janda tua yang baik hati. Diajaknya mampir ke rumahnya. Janda tua itu memperlakukan anak seperti tamu dihormati dan disiapkan hidangan. Di rumah janda tua, anak berpesan, Nek, “Kalau terdengar suara gemuruh nenek harus siapkan lesung, agar selamat!”. Nenek menuruti saran anak itu.


Sesaat kemudian anak itu kembali ke pesta mencoba ikut dan meminta hidangan dalam pesta yang diadakan oleh penduduk desa. Namun warga tetap tidak menerima anak itu, bahkan ditendang agar pergi dari tempat pesta itu. Dengan kemarahan hati anak itu mengadakan sayembara. Ia menancapkan lidi ke tanah, siapa penduduk desa ini yang bisa mencabutnya. Tak satu pun warga desa yang mampu mencabut lidi itu. Akhirnya anak itu sendiri yang mencabutnya, ternyata lubang tancapan tadi muncul mata air yang deras makin membesar dan menggenangi desa itu, penduduk semua tenggelam, kecuali Janda Tua yang masuk lesung dan dapat selamat, semua desa menjadi rawa-rawa.

Terlepas dari Cerita Legenda tersebut kini Rawa Pening  menjadi spot paling menarik untuk dapat melepas lelah dan meninggalkan hingar-bingar kota dengan cara menikmati keindahan genangan air danau yang tenang yang diwarnai dengan lansekap gunung-gunung yang mengelilinginya.



Jeng Asih, Ratu Pembuka Aura dari Gunung Muria




Info & pemesanan:
Padepokan Metafisika Jeng Asih
Jl. Diponegoro 72, Pati – Jawa Tengah 
Jl. Melawai Raya 17, Blok M – Jakarta Selatan
      08129358989 – 08122908585