Sabtu, 18 Maret 2017

Keangkeran Makam Ratu Galuh di Taman Raya Bogor

Kawasan Objek wisata Kebun Raya Bogor yang terkenal akan keindaan alam dan pepohonan yang rindang, ternyata menyimpan berbagai misteri. Tak ada yang mengira bahwa di tengah objek wisata Kebun Raya Bogor ada sebuah kuburan yang dikeramatkan. Inilah makam yang diyakini sebagai Ratu Galuh, istri Prabu Siliwangi.

Di kompleks Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, terdapat sebuah makam keramat. Di dalam area makam tersebut diyakini terdapat makam Ratu Galuh Mangkualam yang merupakan istri kedua dari Prabu Siliwangi.

Makam Ratu Galuh ini ada sejak 600 tahun lalu. Situs makam ini ditemukan pada tahun 1946 oleh H Rahmat. Lokasi makam tersebut berdekatan dengan Jembatan Gantung yang merupakan salah satu icon Kebun Raya Bogor. 

Dari tahun ke tahun pengunjung yang datang terus bertambah dengan tujuan yang sama yaitu berziarah ke makam Ratu Galuh. Selain makam Ratu Galuh, di komplek itu juga terdapat makam sesepuh Bogor, Mbah Jepra. Dia dulunya merupakan seorang panglima kerajaan Pajajaran. Selain itu, juga ada makam Senopati Mbah Baul.

Ada semacam aturan tidak tertulis untuk mereka yang akan berziarah ke komplek 3 makam ini. Yang pertama kali harus dikunjungi adalah makam Ratu Galuh. Kemudian dilanjutkan berziarah ke makam Mbah Jepra dan diakhiri dengan mengunjungi makam senopati Mbah Baul.

Untuk proses ritual berziarah dimulai dari memanjatkan doa, berdzikir dan yang terakhir adalah menabur bunga di atas makam Ratu Galuh serta membakar kemenyan. Tetapi, semua peziarah akan lebih diarahkan kepada dzikir dan doa kepada Tuhan.

Khusus pada makam Ratu Galuh, di atas pusaranya terdapat replika mahkota berwarna emas yang terbuat dari semen. Mahkota tersebut menunjukkan kepemimpinan atau status seorang Galuh Mangkualam.

Banyak cerita-cerita mistis yang melingkupi daerah Kebun Raya Bogor. Salah satunya yaitu ketika Presiden AS George W Bush yang akan berkunjung ke Indonesia beberapa tahun lalu. Pada saat helipad yang di tumpangi Bush tidak bisa mendarat karena hujan lebat dan angin ribut. Menurut juru kunci makam, itu terjadi karena mereka tidak meminta izin kepada Ratu Galuh dan para sesepuh lainnya maka terjadilah bencana tersebut.



Jeng Asih, Ratu Pembuka  Aura dari Gunung Muria




Info & pemesanan:
Padepokan Metafisika Jeng Asih
Jl. Diponegoro 72, Pati – Jawa Tengah 
Jl. Melawai Raya 17, Blok M – Jakarta Selatan
08129358989 – 08122908585    



Gunung Salak, Konon, Tempat Pernikahan Manuisia dengan Bangsa Jin

Keangkeran dan misteri yang menyelimuti Gunung Salak hingga kini belum bisa terpecahkan. Gunung Salak   terletak di perbatasan antara Kabupaten Bogor dan Sukabumi. Kawasan Gunung Salak tidak hanya terkenal berbahaya ataupun angker atau wingit, tetapi juga menyimpan sejuta misteri.

Misteri yang paling terkenal adalah kisah ngahyang atau moksanya Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran yang memutuskan untuk menghilang dari dunia nyata setelah terdesak pengaruh Islam pada masanya. Konon, di belantara Gunung Salak inilah beliau terkepung dan mengapung ke udara. Titik menghilangnya Prabu Siliwangi ini kemudian dikenal sebagai ‘pengapungan’. Lokasinya berjarak tidak jauh dari Kawah Ratu.

Kawasan mistis Gunung Salak menyimpan setidaknya 40 (empat puluh) makam para raja kuno yang berusia hingga ratusan tahun. Selain makam keramat, ada juga petilasan suci yang tersebar di berbagai titik, termasuk petilasan Prabu Siliwangi sendiri. Petilasan tersebut berada di kaki Gunung Salak. Saking keramatnya, warga setempat meyakini bahwa tidak seorang pun boleh melewati kawasan tersebut. Apalagi dengan membawa rasa angkuh dan kesombongan.

Puncak Gunung Salak memiliki cuaca yang sering berubah-ubah. Terkadang saat matahari bersinar terik, hujan mendadak turun dengan lebat disertai kabut yang mengaburkan pandangan mata. Inilah yang paling sering menyebabkan bahaya bagi para pendaki Gunung Salak.
Tebalnya kabut yang muncul secara tiba-tiba juga menjadi alasan mengapa pesawat komersil jarang melintas di atas Gunung Salak. Bahkan Anda mungkin masih ingat dengan jelas, bahwa belum lama lalu sebuah pesawat buatan Rusia pernah mengalami kecelakaan tragis di sana.
Selain bahaya penerbangan, bahaya pendakian dan keangkeran lokasinya, Gunung Salak juga dikenal sebagai lokasi tempat pernikahan antara manusia dengan jin.


Jeng Asih, Ratu Pembuka  Aura dari Gunung Muria




  Info & pemesanan:
Padepokan Metafisika Jeng Asih
Jl. Diponegoro 72, Pati – Jawa Tengah 
Jl. Melawai Raya 17, Blok M – Jakarta Selatan
08129358989 – 08122908585    



Aroma Wingit Lawang Sewu, Semarang

Cerita seram lawang sewu sangat terkenal di seluruh indonesia dan bangunan yang sangat unik ini memiliki Lawang atau Pintu SeribuLawang Sewu bangunan pada masa penjajah belanda itu disebut Wilhelminaplein. Dijuluki sebagai Lawang Sewu  atau dalam bahasa Indonesia yaitu Seribu Pintu, karena bangunan ini benar-benar memiliki pintu yang sangat banyak.
Bangunan bersejarah Lawang Sewu Semarang, Jawa Tengah, tentunya sudah akrab
di telinga masyarakat, khususnya warga semarang dan sekitarnya.

Namun tak banyak yang tahu, jika simbol seribu pintu gedung peninggalan pemerintah kolonial Belanda itu menyimpan banyak cerita tersembunyi.

Sebagai gedung yang merupakan pusat pemerintah Belanda waktu itu, Lawang Sewu merupakan ikon penting Kota Semarang. Berdasarkan sejarahnya, gedung megah ala Eropa ini adalah bekas kantor pusat Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS, jawatan kereta api Belanda yang beroperasi di Semarang. Prof Jacob F Klinkhamer (TH Delft) dan BJ Ouendag adalah sang arsitek yang berdomisili di Amsterdam pada tahun 1903 silam.

Gedung yang memiliki keunikan bentuk arsitektur ini, pembangunannya bahkan memakan cukup waktu lama. Dimulai pada 27 Februari 1904 sampai pada 01 Juli 1907. Nama Lawang Sewu karena gedung ini dibuat dengan bangunan 1000 pintu, terbagi dalam empat gedung, A sampai D.

Bangunan yang menjadi saksi bisu kelamnya masa penjajahan masyarakat Indonesia saat itu, membuat Lawang Sewu menjadi tempat yang penuh misteri di Jawa Tengah. Terlebih, bangunan itu juga saksi sejarah tempat bertempurnya para pahlawan tanah air untuk mengusir para serdadu Jepang yang terakhir berkuasa. Termasuk saksi bisu ribuan pejuang Indonesia yang disiksa di lokasi itu.

Berdasarkan pengakuan warga sekitar Lawang Sewu,  ribuan makhluk gaib bermukim di gedung empat lokal tersebut. Bahkan, di titik-titik tertentu, mulai dari bagian sumur tua, pintu utama, lorong-lorong, lokasi penjara berdiri, penjara jongkok, ruang utama serta di bagian ruang penyiksaan.

Bukan rahasia lagi jika Cerita Misteri Hantu seperti kuntilanak, genderuwo, hantu berwujud para tentara Belanda, serdadu Jepang dan hantu wanita nonik Belanda sangat kental terdengar di sejumlah lokasi 1000 pintu itu. Otomatis menambah aroma wingitnya lawang sewu di mata masyarakat luas.

"Yang paling horor itu di lokasi pembantaian, baik pada masa penjajahan Belanda maupun Jepang, " kata Soeranto, warga Semarang yang mengaku pernah tinggal bertahun-tahun di pelataran gedung Lawang Sewu sebelum dipugar.

Menurutnya, penjara bawah tanah dan ruang penyiksaan adalah hal yang masih kerap menjadi misteri para pengunjung. Ada sebuah penjara berdiri yang terletak di bawah tanah. Konon, di penjara bawah tanah itu adalah tempat para tahanan yang di masukkan dan berdesak-desakan hingga meninggal dunia.

Selain penjara berdiri, kata dia, ada pula penjara jongkok yang menghiasi sisi mistis gedung Lawang Sewu. Menilik sejarahnya, di penjara berdiameter 1,5 meter persegi dan tinggi sekitar 60 cm menjadi saksi bisu sadisnya serdadu Jepang membantai para tahanan.

"Konon, ratusan tahanan yang dimasukkan harus berjongkok dan berdesakan. Lalu penjara akan di isi dengan air sampai sebatas leher dan di tutup dengan jeruji besi, " kata Soeranto.

Tak hanya memiliki penjara bediri dan jongkok, gedung ini juga punya sebuah ruang penyiksaan. Ruang penyiksaan ini, menurut cerita, adalah ruang pemasungan kepala para tahanan di masa penjajahan.

Jika pengunjung memasuki area ini, tentunya akan melihat alat pemasung dan rantai yang masih tersisa. Para pengunjung yang datang bisa merasakan suasana yang sangat mencekam di lokasi ini, tutur sang juru kunc. 

Kisah-kisah misteri di sejumlah lokasi itu banyak diakui membuat Gedung Lawang Sewu banyak dikunjungi wisatawan dalam maupun luar negeri. Kini, ikon Kota Semarang itu terus dilakukan pemugaran oleh PT KAI daop IV Semarang selaku pihak pengelola. Sehingga sejumlah fasilitas, seperti kereta asli peninggalan Belanda dan fasilitas zaman dulu itu kembali direvitalisasi.

Menurut Manajer Museum PT KAI Sapto Hartoyo, meski Lawang Sewu terus dilakukan renovasi, akan tetapi renovasi itu tidak menghilangkan nuansa asli gedung seribu pintu dengan berbagai cerita mistis yang melatarinya itu. Jadi pemugaran yang terus dilakukan dengan pengecatan dan perbaikan, tidak membuat keaslian warna dan bentuk bangunan Lawang Sewu berubah.

Gedung yang saat ini telah dikelola dengan rapi oleh pemerintah itu tidak lagi dikesankan angker. Meski hal itu menjadi ikon tersendiri kota Semarang. Sebab, lokasi itu telah disulap menjadi obyek wisata kota yang paling diminati.

"Jadi kalau Lawang Sewu Wingit  itu dulu. Sekarang, di sini sangat bagus dan lebih terawat dengan baik semua bangunannya, terpelihara " kata Haryo Panuntun.

   


Jeng Asih, Ratu Pembuka  Aura dari Gunung Muria




Info & pemesanan:
Padepokan Metafisika Jeng Asih
Jl. Diponegoro 72, Pati – Jawa Tengah 
Jl. Melawai Raya 17, Blok M – Jakarta Selatan
  08129358989 – 08122908585   


Senin, 06 Maret 2017

Alas Purwo, Pusat Kerajaan Jin Pulau Jawa



Alas Purwo, di Banyuwangi dikenal sangat wingit. Bahkan mendapat julukan sebagai kerajaan jin ter wingit atau angker di pulau jawa, alas puwo ini berlokasi di dua kecamatan yaitu kecamatan tegal dlimo dan kecamatan purwoharjo, dan alas purwo ini termasuk wilayah taman nasional alas purwo.
Bagi warga banyuwangi ataupun para penelusur dunia lain alas purwo ini terkenal sangat angker, sebagian orang meyakini bahwa di alas purwo ini terdapat kerajaan jin yaitu tempat berkumpulnya para mahluk halus jin dan sebangsanya , dialas purwo bayuwangi ini juga terdapat sebuah pura yang terletak di tengah alas, tidak heran jika setiap tahunnya banyak pengunjung umat hindu dari bali dan banyuwangi berkunjung ke pura ini, bahkan pada hari hari tertentu seperti tanggal 1 suro (tahun baru islam) banyak warga yang datang ke alas purwo ini untuk bersemedi mencari wangsit, kesaktian bahkan pesugihan.

Alas purwo banyuwangi ini memiliki lebih dari 30 goa yang biasanya di gunakan untuk ajang bertapa , jangan heran jika anda berkunjung ke alas ini, di beberapa goa dan jalanan terdapat berbagai sesajen dan aroma kemenyan. Salah satu goa yang populer dan sering di singgahi oleh para petapa yaitu goa istana yang konon pernah dikunjungi oleh bapak presiden pertama di Indonesia yaitu soekarno yang bertapa untuk mencari ketenangan, konon goa istana ini menjadi salah satu tempat berkumpulnya para raja untuk bertukar pikiran dan menenangkan diri, goa ini kerap dikunjungi para petapa dan menurut penglihatan para normal goa ini dijaga oleh dua orang prajurit yang bertubuh besar dan banyak pula makhluk gaib yang tinggal di goa ini.

Tidak hanya itu di "alas purwo" banyuwangi ini juga terdapat sebuah makam yaitu makam mbah dowo. Makam ini memiliki panjang kurang lebih 7 meter  yang terletak di tepian alas purwo, di tempat inipun kerap digunakan sebagai tempat bertapa . makam yang memiliki panjang 7meter ini bukanlah makam jasad manusia melainkan tombak pusaka milik EMPU BARADA yang dititipkan kepada suryo bojonegoro untuk diserahkan kepada RAJA KLUNGKUNG yang akan dipergunakan sebagai senjata untuk melawan seorang janda berilmu hitam yaitu CALON ARANG, namun suryo bojonego melanggar amanah tersebut dan membuka pusaka sebelum  sampai di istana, karna hal itulah tombak pusaka tersebut kembali ketanah dan tidak bisa di ambil kembali dan ahirnya suryobojonegoropun menghabiskan sisa hidupnya untuk menjaga benda pusaka tersebut. Makam mbah dowo ini mempunyai kekuatan yang sangat tinggi sehingga di jaga oleh penjaga yang layaknya seperti prajurit.



Jeng Asih, Ratu Pembuka  Aura dari Gunung Muria




   Info & pemesanan:
Padepokan Metafisika Jeng Asih
Jl. Diponegoro 72, Pati – Jawa Tengah 
Jl. Melawai Raya 17, Blok M – Jakarta Selatan
08129358989 – 08122908585      

Air Terjun Sedudo Terkenal Wingit

Bagi masyarakat Nganjuk, Jawa Timur, tak asing lagi dengan adanya Mitos yang tersebar di Air Terjun Sedudo.  Konon, air terjun sedudo  tak lepas dari sejarah Kerajaan Majapahit.  Kabar yang beredar, air terjun ini telah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit dan dipercaya sebagai air atau tirta suci yang mengalir dari kahyangan.

Para raja, bangsawan, dan pendeta dari Majapahit kerap memanfaatkan air terjun tersebut untuk upacara ritual, baik itu memandikan arca maupun membersihkan senjata pusaka yang terkenal dengan nama upacara Parna Prahista. Nantinya sisa air tersebut dipercikkan keluar kepada keluarga guna mendapat keberkahan, keselamatan, dan awet muda.

Tradisi ini pun masih berlanjut hingga sekarang dan rutin digelar oleh Pemkab Nganjuk dengan nama ritual Mandi Sedudo yang biasanya diadakan pada tanggal 1 Suro di penanggalan Jawa. Air Terjun Sedudo juga menjadi tempat pertapaan salah seorang tokoh penyebar agama Islam di Nganjuk, Ki Ageng Ngaliman.

Konon, Khasiat Air Terjun Sedudo yang bisa membuat awet muda memang menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan untuk mendatangi tempat ini. Karenanya setiap kali perayaan Mandi Sedudo yang rutin digelar pemerintah setempat senantiasa ramai dikunjungi wisatawan.

Menurut para wisatawan yang datang akan mitos air terjun tersebut, mereka mengatakan Selain bisa membuat awet muda, dengan mandi di air terjun sedudo ini akan mendapatkan keberkahan yang tanpa diduga.

Terlebih, kata para wisatawan bahwa air terjun ini menjadi tempat pemandian para dewa yang bersemayam yang membuat airnya tidak pernah kering.

Sampai sekarang pun sebenarnya masih sering orang memandikan benda-benda keramat di sana, tapi mungkin lebih banyak orang yang datang untuk wisata. Bahkan ada yang meminta keberuntungan dan awet muda dengan mandi di lokasi itu.

Jeng Asih, Ratu Pembuka Aura dari Gunung Muria




Info & pemesanan:
Padepokan Metafisika Jeng Asih
Jl. Diponegoro 72, Pati – Jawa Tengah 
Jl. Melawai Raya 17, Blok M – Jakarta Selatan
08129358989 – 08122908585       


Pantai Wingit Gerbang Istana Ratu Kidul

Bagi sebagian besar masyarakat Yogyakarta, sampai saat ini meyakini adanya hubungan spesial antara Keraton Yogyakarta dengan penguasa pantai selatan, Nyi Roro Kidul. Hubungan spesial tersebut dimulai sejak pendiri mataram Panembahan Senopati. Dan di Pantai Parangkusumo lah hubungan spesial itu terjadi. 

Pantai Parangkusumo merupakan salah satu pantai yang dikramatkan oleh penduduk sekitar kawasan Pantai Parangtritis, Kretek, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dalam tradisi Jawa, pantai Parangkusumo ini dianggap sebagai gerbang utama atau jalan tol menuju Keraton Gaib Laut Selatan, sebuah kerajaan Nyi Roro Kidul yang menguasai Laut Selatan (Samudera Hindia).

Berbagai acara labuhan, baik dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat maupun dari masyarakat setempat digelar di pantai Parangkusumo. Ritual Labuhan Keraton di Pantai Parangkusumo merupakan simbol ikatan dan kekuasaan antara keraton dan penguasa laut selatan.

Berdasarkan cerita almarhum Mbah Nono panggilan akrab RP Suraksotarwono juru kunci sekaligus sesepuh warga Pantai Parangkusumo yang baru meninggal sekitar dua bulan lalu, labuhan kepada Kanjeng Ratu Kidul merupakan sebuah ritual yang penting bagi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Ratu Kidul berjanji untuk mengayomi Panembahan Senopati dan seluruh keturunannya dan Kerajaan Mataram ketika berada dalam kesulitan. Berdasarkan nasehat dari Ki Juru Mertani, Panembahan Senopati bermeditasi di Pantai Parangkusumo, sebuah pantai kecil di pinggiran Laut Selatan.

Meditasi yang luar biasa tersebut mengakibatkan "goro-goro" atau menimbulkan kekacauan di Kerajaan Segara Kidul (laut selatan). Kanjeng Ratu Kidul pun mendatangi penguasa Mataram tersebut dan mengatakan bahwa harapannya telah dikabulkan oleh Sang Maujud Agung.

Kemudian perjanjian antara Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul dibuat. Hubungan antara raja-raja Mataram dan Kanjeng Ratu Kidul telah memperkokoh legitimasi kebudayaan kepada Sri Sultan Hamengkubuono.

Cerita tersebut sampai sekarang masih dipercayai oleh masyarakat Yogyakarta. Sehingga masyarakat masih melakukan ritual di kawasan Cepuri sebagai tempat pertemuan antara Ratu Kidul dengan Panembahan Senopati dan juga di Kawasan Pantai Parangkusumo yang dipercaya merupakan keratonnya Ratu Kidul.

Meski hanya sebuah cerita yang turun temurun, masyarakat tetap melakukan semedi di Pantai Parangkusomo kata Mbah Nono. Pada tahun 1973 ketika akan diberi limpahan jabatan dari ayahnya, dia didampingi ayahnya melakukan semedi Pantai Parangkusmo.

Saat itu tiba-tiba air laut surut dan terlihat adanya sebuah kerajaan. Saat dia masuk, dari depan kerajaan terlihat seperti ada gerbang yang megah. Melewati gerbang terlihat bangunan seperti pendapa yang dilengkapi tiga tangga yang terbuat dari batu yang sangat indah dan sangat bersih.

Ketika ingin menaiki pendopo tiba-tiba sosok Ratu Kidul muncul. Seketika itu juga Mbah Nono langsung menundukkan wajah sebagai bentuk penghormatan bagi penguasa laut selatan.

Setelah sekian lama tertunduk, tiba-tiba Ratu Kidul menjamah kepala Mbah Nono seraya mengatakan untuk menerima tanggung jawab yang diberikan ayahnya, menjadi penerus juru kunci Cepuri. Melalui pengalaman gaib itulah dia menerima tanggung jawab sebagai juru kunci Cepuri, tempat pertemuan antara Panembahan Senopati dengan Ratu Kidul.

Sebagai juru kunci Cepuri, kakek yang telah dikarunia empat cucu ini menyatakan, terdapat dua tempat lokasi untuk melakukan ziarah yaitu di Batu Besar yang disebut Sela Ageng dan Batu Sengker atau batu gilang. Di lokasi Sela Ageng inilah pertama kali Penembahan Senopati melakukan semedi. Namun karena tidak nyaman, maka Panembahan Senopati berpindah tempat ke lokasi batu sengker (batu kecil) yang lokasinya di bagian selatan Sela Ageng.

Saat bersemedi di batu kecil (Batu sengker) inilah Panembahan Senopati bertemu dengan Ratu Kidul yang ceritanya Ratu Kidul bersedia membantu dan mengamankan kerajaannya beserta keturunan Penembahan Senopati (Raja Keraton Yogyakarta). Dengan janji dari Ratu Kidul itulah sampai sekarang ritual Labuhan yang dimulai dari doa di sela sengker hingga dan berakhir dengan Labuhan di Kawasan Pantai Parangkusumo masih terus dilestarikan. Sampai kini, ritual tersebut sudah masuk menjadi agenda budaya dan wisata di Pantai Parangkusumo, Kretek, Bantul, Yogyakarta.



Jeng Asih, Ratu Pembuka Aura dari Gunung Muria




Info & pemesanan:
Padepokan Metafisika Jeng Asih
Jl. Diponegoro 72, Pati – Jawa Tengah 
Jl. Melawai Raya 17, Blok M – Jakarta Selatan
08129358989 – 08122908585     



Ketonggo, Alas Wingit di Jawa Timur

Alas Ketonggo, merupakan sebuah hutan yang sangat terkenal khususnya dikalangan para penelusur dunia lain karena memang hutan tersebut termasuk dalam salah satu tempat paling wingit atau angkerdi pulau jawa. 

Nama Alas Ketonggo sendiri memiliki arti tersendiri yaitu alas berarti Hutan dan Ketonggo berasal dari kata Katon yang artinya Terlihat dan Onggo ialah Mahluk halus yang bisa di jabarkan makhluk halus atau kehidupan yang halus yang katon atau kelihatan. Dan pasalnya alas ketonggo ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan Alas Purwo di Banyuwangi   yang dikenal dengan sebutan kerajaan jin terbesar di pulau jawa yang mana alas ketonggo di juluku sebagai Ibuk dan alas purwo sebagai Bapak.

 Menurut mitos yang beredar di masyarakat sekitar Alas Ketonggo dipercayai sebagai pusat keratin lelembut atau mahluk halus dan di lokasi hutan tersebut terdapat lebih dari 54 tempat pertapaan yang sering digunakan oleh para normal untuk bertapa. Namun dari banyaknya tempat tersebut terdapat 10 tempat yang paling populer dan sering digunakan untuk melakukan ritual diantaranya yaitu Phunden Watu Dakon, Punden Tugu Mas, Palenggahan Agung Srigati, Umbul Jambe, Punden Siti Hinggil, Kali Tempur Sedalem, Watu Legok, Batok Bolu, Kori Gapit dan Palenggahan Soekarno.

Alas Ketonggo yang juga di sebut dengan alas srigati ini merupakan tempat bersejarah yang mana dikisahkan bahwa di hutan ini tempat pertapaan Prabu Brawijaya V (Sunan Lawu) dan di tempat tersebut pula Prabu Brawijaya V melepas semua tanda kebesaran kerajaan seperti mahkota, jubah dan semua benda pusaka yang dimilikinya namun kesemuanya raib atau mukso, dan di hutan tersebut terdapat sebuah petilasan prabu Brawijaya yang berupa gundukan tanah yang tumbuh setiap harinya dan mengeras bagaikan batu karang dan petilasan tersebut dinyatakan bagian dari sejarah Majapahit oleh Gusti Dorojatun IX dari kesunanan Surakarta. So..tidak heran jika pada saat 1 muharram atau pergantian bulan hijriah alas ketonggo ini dipadati oleh ribuan pengunjung yang datang dari berbagai daerah.

Keberadaan pesanggrahan Srigati di hutan tersebut membuat alas ketonggo menjadi sebuahobyek wisata spiritual yang cukup dikenal, saat memasuki alas ketonggo para pengunjung langsung dapat melihat pesanggrahan Agung Srigati yang berupa rumah kecil dengan ukuran 4x3 meter yang didalamnya terdapat gundukan tanah yang tiapharinya tumbuh layaknya tanah hidup, dan dinding rumah tersebut dikitari kain putih khas tempat sakral. Pesanggrahan srigati ini juga menjadi tempat untuk bertapa, merenung, berdoa pada sang khaliq, pada hari-hari tertentu pesanggrahan ini sangatlah ramai seperti jumat pon, jnumat legi dan bulan suro biasanya para tamu membawa pesembahan tersendiri seperti dupa, menyan, dan bunga sesuai dengan keyakinannya masing-masing.



Selain menjadi obyek wisata spiritual alas di alas ketonggo ini juga terdapat mitos yang sangat menyeramkan yaitu “sering terdengar suara namun tak Nampak wujudnya, dan ada juga pengunjung yang melihat kilatan cahaya aneh berwarna-warni yang datang  dari atas pohon. Selain itu alas ketonggo ini juga dikenal sebagai tempat penarikan uang alias Bank Gaib.  

Jeng Asih, Ratu Pembuka Aura dari Gunung Muria




Info & pemesanan:
Padepokan Metafisika Jeng Asih
Jl. Diponegoro 72, Pati – Jawa Tengah 
Jl. Melawai Raya 17, Blok M – Jakarta Selatan
      08129358989 – 08122908585