Senin, 20 Maret 2017

Aura Magis Keraton Ratu Kidul di Goa Langse

Keberadaan Goa Langse dalam catatan setidaknya ada 3 tempat. Yang pertama adalah Goa Langse di Surowiti, Panceng, Gresik, Jawa Timur. Sedangkan Goa Langse selanjutnya adalah di Rahtawu, Kec. Gebog, Kudus, Jawa Tengah. Selanjutnya adalah Goa Langseh yang berada di Giricahyo, Purwosari, Gunung Kidul, Yogyakarta.

Dari ketiga nama yang sama namun berbeda tempat tersebut, mempunyai keunikan masing-masing dan segala hal berbau mitos yang menyungkupinya. Goa Langse yang   pertama, yakni di Surowiti.    Goa Langse   kedua   di Rahtawu   Goa Langse yang terakhir, di Giricahyo, Purwosari, Gunung Kidul.

Sementara yang kita ungkap kali ini adalah Gua Langse di  Giricahyo. Meski  sudah masuk wilayah Gunung Kidul, letaknya tidak jauh dari pantai Parangtritis, Bantul. Bahkan jika cuaca sedang cerah goa ini dapat kita lihat dari pantai Parangtritis. Arahkan pandangan  ke tebing arah timur dari pantai, jika terlihat ada bangunan seperti pendopo kecil nangkring di atas karang, itulah lokasi Goa Langse.

Magis, sacral dan wingit, itulah kesan pertama saat menginjakkan kaki Goa Langse dan seakan perjalan yang menantang untuk mencapai goa ini seakan terbayar lunas, terlebih Anda adalah menyukai tempat-tempat yang hening dan sarat akan mistis. Inilah tempat yang memenuhi kriteria tersebut. Sayangnya, bukan perjalanan yang mudah untuk mencapainya.


Untuk ke Goa Langse ini kita harus bernyali tebal dan tidak phobia pada ketinggian. Perjalanan untuk menuju lokasi Goa ini setidaknya kita akan meniti tebing yang nyaris tegak lurus dengan ketinggian tak kurang dari 400 meter. Maka tak mengherankan, banyak korban yang jatuh saat menuju ke lokasi Goa Langse ini. Pertanyaannya, mengapa Goa yang relatif sulit ini mempunyai daya tarik para peziarah pencari berkah?

Mitosnya, Goa Langse ini diyakini sebagai salah satu keratonnya Kanjeng Ibu Ratu Kidul. Maka tak mengherankan, Goa Langse ini dalam berbagai kesempatan sering dikunjungi oleh para Nata Mataram. Di goa ini juga diyakini pernah bersemedi pula Syekh Siti Jenar, Syech Maulana Maghribi, Danang Sutawijaya atau Panembahan Senopati maupun Sunan Kalijaga.

Dari cerita tutur yang berkembang, keberadaan Goa Langse berawal dari kisah Dewi Nawangwulan. Dewi Nawangwulan adalah bidadari dari kahyangan yang ketika itu dia bersama kakak-kakaknya mandi di Sendang Beji yang ada di Girijati.

Syahdan, ketika para bidadari tersebut mandi, Kidang Telangkas atau yang lebih dikenal dengan nama Jaka Tarub melihatnya. Naluriah laki-laki, melihat banyak wanita cantik mandi lantas tergerak hatinya untuk menyembunyikan seperangkat pakaian yang ternyata milik Dewi Nawangwulan. Saat selesai mandi Dewi Nawangwulan menangis sebab kakak-kakaknya bisa kembali mengangkasa dan pulang ke kahyangan sedangkan Dewi Nawangwulan tidak bisa, karena seperangkat pakaianya di sebunyikan Kidang Telangkas.  

Jeng Asih, Ratu Pembuka Aura dari Gunung Muria




Info & pemesanan:
Padepokan Metafisika Jeng Asih
Jl. Diponegoro 72, Pati – Jawa Tengah 
Jl. Melawai Raya 17, Blok M – Jakarta Selatan
08129358989 – 08122908585  
        

Misteri dan Legenda Rawapening


Rawapening merupakan satu varian yang berasal dari bahasa jawa yaitu “bening”. Rawa pening sendiri dikenal sebagai taman wisata danau yang memiliki luas hamper 2.670 hektar yang terletak di cekungan terendah lereng Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo dan Gunung Ungaran, Danau yang cukup dangkal dan sekaligus menjadi hulu sungai Tuntang.

Berkunjung  ke rawa pening ini anda akan disambut dengan hamparan taman hijau yang dilengkapi dengan sebuah danau yang bening dan sangat memanjakan mata siapa saja yang memandang, view gunung yang terlihat eksotis mampu memberikan sensasi tersendiri saat berada di tempat tersebut, di danau rawa pening ini anda bisa menyewa perahu yang telah banyak disediakan di dermaga tersebut untuk menyusuri seluruh keindahan danau, keindahan alam yang masih alami ini juga menjadi buronan para fotografer professional, so bagi anda yang berencana menyambangi   danau rawapening maka siapkanlah camera anda untuk meng-explore dan mengabadikan momen-momen indah tersebut.

Menyusuri danau rawa pening merupakan hal yang sangat menyenangkan apalagi datang bersama seseorang yang special pastinya sangatlah romantis, suasana sejuk dengan pemandangan tumbuhan enceng gondok, persawahan dan pegunungan akan membuat berlibur anda berkesan dan betah berlama-lama di rawa bening tersebut, tidak hanya keindahannya yang tersohor namun wisata rawa pening ini juga menyimpan sebuah misteri yang melegenda di masyarakat.

Sebuah Cerita  yang Melegenda di masyarakat menyebutkan konon, danau rawa pening dulunya merupakan sebuah Desa yang bernama Malwapati dan desa tersebut hiduplah seorang gadis yang bernama Endang sawitri, dan semua penduduk desa tidak mengetahui bahwa gadis tersebut memiliki suami, namun ia hamil dan melahirkan seekor Naga yang bisa bicara layaknya manusia dan Naga tersebut di beri nbama Baru Klinting, saat anak naga tersebut menginjak ABG dia bertanya pada ibunya “ apa saya mempunyai ayah?” ibunya menjawab “ ayahmu berada di Lereng Gunung Tolomoyo ayahmu adalah seorang raja dan kini waktunya kamu mencari ayahmu bawalah klintingan ini sebagai bukti peninggalan ayahmu dulu” dan pergilah baru klinting untuk mencari bapaknya, Sampai di pertapaan Baru Klinting masuk ke gua dengan hormat, di depan Ki Hajar dan bertanya, “Apakah benar ini tempat pertapaan Ki Hajar Salokantara?” Kemudian Ki Hajar menjawab, “Ya, benar”, saya Ki Hajar Salokantara. Dengan sembah sujud di hadapan Ki Hajar, Baru Klinting mengatakan berarti Ki Hajar adalah orang tuaku yang sudah lama aku cari-cari, aku anak dari Endang Sawitri dari desa Ngasem dan ini Klintingan yang konon kata ibu peninggalan Ki Hajar. Ya benar, dengan bukti Klintingan itu kata Ki Hajar. Namun aku perlu bukti satu lagi kalau memang kamu anakku coba kamu melingkari gunung Telomoyo ini, kalau bisa, kamu benar-benar anakku. Ternyata Baru Klinting bisa melingkarinya dan Ki Hajar mengakui kalau ia benar anaknya. Ki Hajar kemudian memerintahkan Baru Klinting untuk bertapa di dalam hutan lereng gunung.

Suatu hari penduduk desa Malwopati mau mengadakan pesta sedekah bumi setelah panen usai. Mereka akan mengadakan pertunjukkan berbagai macam tarian. Untuk memeriahkan pesta itu rakyat beramai-ramai mencari hewan, namun tidak mendapatkan seekor hewan pun. Akhirnya mereka menemukan seekor Naga besar yang bertapa langsung dipotong-potong, dagingnya dibawa pulang untuk pesta. Dalam acara pesta itu datanglah seorang anak jelmaan Baru Klinting ikut dalam keramaian itu dan ingin menikmati hidangan. Dengan sikap acuh dan sinis mereka mengusir anak itu dari pesta dengan paksa karena dianggap pengemis yang menjijikkan dan memalukan. Dengan sakit hati anak itu pergi meninggalkan pesta. Ia bertemu dengan seorang nenek janda tua yang baik hati. Diajaknya mampir ke rumahnya. Janda tua itu memperlakukan anak seperti tamu dihormati dan disiapkan hidangan. Di rumah janda tua, anak berpesan, Nek, “Kalau terdengar suara gemuruh nenek harus siapkan lesung, agar selamat!”. Nenek menuruti saran anak itu.


Sesaat kemudian anak itu kembali ke pesta mencoba ikut dan meminta hidangan dalam pesta yang diadakan oleh penduduk desa. Namun warga tetap tidak menerima anak itu, bahkan ditendang agar pergi dari tempat pesta itu. Dengan kemarahan hati anak itu mengadakan sayembara. Ia menancapkan lidi ke tanah, siapa penduduk desa ini yang bisa mencabutnya. Tak satu pun warga desa yang mampu mencabut lidi itu. Akhirnya anak itu sendiri yang mencabutnya, ternyata lubang tancapan tadi muncul mata air yang deras makin membesar dan menggenangi desa itu, penduduk semua tenggelam, kecuali Janda Tua yang masuk lesung dan dapat selamat, semua desa menjadi rawa-rawa.

Terlepas dari Cerita Legenda tersebut kini Rawa Pening  menjadi spot paling menarik untuk dapat melepas lelah dan meninggalkan hingar-bingar kota dengan cara menikmati keindahan genangan air danau yang tenang yang diwarnai dengan lansekap gunung-gunung yang mengelilinginya.



Jeng Asih, Ratu Pembuka Aura dari Gunung Muria




Info & pemesanan:
Padepokan Metafisika Jeng Asih
Jl. Diponegoro 72, Pati – Jawa Tengah 
Jl. Melawai Raya 17, Blok M – Jakarta Selatan
      08129358989 – 08122908585               


 


Kewingitan Alas Ketonggo, Ngawi


Wilayah Alas Ketonggo, merupakan sebuah hutan yang sangat terkenal khususnya dikalangan para penelusur dunia lain karna memang hutan tersebut termasuk dalam salah satu tempat paling angker di pulau jawa.

Nama Alas Ketonggo sendiri memiliki arti tersendiri yaitu alas berarti Hutan dan Ketonggo berasal dari kata Katon yang artinya Terlihat dan Onggo ialah Mahluk halus yang bisa di jabarkan makhluk halus atau kehidupan yang halus yang katon atau kelihatan. Dan pasalnya alas ketonggo ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan Alas Purwo di Banyuwangi  yang dikenal dengan sebutan kerajaan jin terbesar di pulau jawa yang mana alas ketonggo di juluku sebagai Ibuk dan alas purwo sebagai Bapak.Hutan angker ini berlokasi di Desa Babadan, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.

Menurut mitos yang beredar di masyarakat sekitar Alas Ketonggo dipercayai sebagai pusat keratin lelembut atau mahluk halus dan di lokasi hutan tersebut terdapat lebih dari 54 tempat pertapaan yang sering digunakan oleh para normal untuk bertapa. Namun dari banyaknya tempat tersebut terdapat 10 tempat yang paling populer dan sering digunakan untuk melakukan ritual diantaranya yaitu Phunden Watu Dakon, Punden Tugu Mas, Palenggahan Agung Srigati, Umbul Jambe, Punden Siti Hinggil, Kali Tempur Sedalem, Watu Legok, Batok Bolu, Kori Gapit dan Palenggahan Soekarno.

Alas Ketonggo yang juga di sebut dengan alas srigati ini merupakan tempat bersejarah yang mana dikisahkan bahwa di hutan ini tempat pertapaan Prabu Brawijaya V (Sunan Lawu) dan di tempat tersebut pula Prabu Brawijaya V melepas semua tanda kebesaran kerajaan seperti mahkota, jubah dan semua benda pusaka yang dimilikinya namun kesemuanya raib atau mukso, dan di hutan tersebut terdapat sebuah petilasan prabu brawijaya yang berupa gundukan tanah yang tumbuh setiap harinya dan mengeras bagaikan batu karang dan petilasan tersebut dinyatakan bagian dari sejarah majapahit oleh Gusti Dorojatun IX dari kesunanan Surakarta. So..tidak heran jika pada saat 1 muharram atau pergantian bulan hijriah alas ketonggo ini dipadati oleh ribuan pengunjung yang datang dari berbagai daerah.

Keberadaan pesanggrahan Srigati di hutan tersebut membuat alas ketonggo menjadi sebuahobyek wisata spiritual yang cukup dikenal, saat memasuki alas ketonggo para pengunjung langsung dapat melihat pesanggrahan Agung Srigati yang berupa rumah kecil dengan ukuran 4x3 meter yang didalamnya terdapat gundukan tanah yang tiapharinya tumbuh layaknya tanah hidup, dan dinding rumah tersebut dikitari kain putih khas tempat sakral. Pesanggrahan srigati ini juga menjadi tempat untuk bertapa, merenung, berdoa pada sang khaliq, pada hari-hari tertentu pesanggrahan ini sangatlah ramai seperti jumat pon, jnumat legi dan bulan suro biasanya para tamu membawa pesembahan tersendiri seperti dupa, menyan, dan bunga sesuai dengan keyakinannya masing-masing.

Selain menjadi obyek wisata spiritual alas di alas ketonggo ini juga terdapat mitos yang sangat menyeramkan yaitu “sering terdengar suara namun tak Nampak wujudnya, dan ada juga pengunjung yang melihat kilatan cahaya aneh berwarna-warni yang datang  dari atas pohon. Selain itu alas ketonggo ini juga dikenal sebagai tempat penarikan uang alias Bank Gaib.  Nah, Anda punya nyali untuk mencobanya….



Jeng Asih, Ratu Pembuka Aura dari Gunung Muria




Info & pemesanan:
Padepokan Metafisika Jeng Asih
Jl. Diponegoro 72, Pati – Jawa Tengah 
Jl. Melawai Raya 17, Blok M – Jakarta Selatan
08129358989 – 08122908585           



Keramat Pangeran Suryanegara dan Kisah Tanah Penyembuh

Desa Lemahtamba dahulu bernama Padukuhan Cikujang. Ada beberapa cerita rakyat yang beredar tentang awal mula tercipta nama Lemahtamba. Salah satunya menceritakan bahwa, dahulu pada sebuah tempat diadakan sayembara oleh seorang putri yang bernama Nyi Mas Gandasari. Beliau adalah seorang putri dari Panguragan yang terkenal cantik dan sakti mandraguna.



Kemudian ada seorang laki-laki datang menghampiri dan melihat sayembara itu. Laki-laki tersebut bernama Gusti Pangeran Suryanegara. Gusti Pangeran Suryanegara datang dengan menaiki kuda putih. Namun, karena kuda itu kelelahan dan sakit, beliau berhenti sejenak sambil berfikir dan melihat situasi sekitar  desa yang ternyata masih di kelilingi pesawahan. Beliau bingung hendak meminta minum kepada siapa. Tetapi di sekitar sawah tersebut ada burung Bangau putih yang sedang minum di bawah pohon Gempol.

 Karena air dan tanahnya bisa menyembuhkan penyakit dan sangat baik, kemudian berucaplah Gusti Pangeran Suryanegara, “Padukuhan ini saya beri nama Lemahtamba”. Karena dikenal dengan Lemah (tanah)-nya yang bisa digunakan untuk obat (Tamba).


Petilasan keramat Pangeran Suryanegara yang berada di Desa Lemahtamba, Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon, merupakan salah satu situs cagar budaya Kabupaten Cirebon yang ramai dikunjungi para peziarah, khususnya pada malam jumat kliwon.

Para peziarah berdatangan dari berbagai daerah untuk meminta barokah dan ikhtiar. Setiap malam jum’at kliwon di petilasan ini diadakan tahlilan setelah sholat Isya. Setelah selesai tahlilan, biasanya dilanjutkan berdo’a dan wiridan sampai subuh.

Jeng Asih, Ratu Pembuka  Aura dari Gunung Muria




 Info & pemesanan:
Padepokan Metafisika Jeng Asih
Jl. Diponegoro 72, Pati – Jawa Tengah 
Jl. Melawai Raya 17, Blok M – Jakarta Selatan
08129358989 – 08122908585   


Batu Tirakat Sunan Giri, Konon, Sangat Wingit

 Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa,Sunan Giri seperti halnya Sunan Kalijaga dan Sunan Gunung Jati, termasuk Wali Songo (sembilan wali) atau kelompok ulama penyebar ajaran Islam di Pulau Jawa. Sunan Giri dilahirkan di Blambangan yang berada wilayah Banyuwangi, Jawa Timur.
Ada sebuah peninggalan Sunan Giri yang masih terjaga hingga kini, yakni sebuah batu yang ditaruh begitu saja di lantai 2 Masjid Beji, di Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Bentuk batunya mirip dengan batu apung yang tidak beraturan.
Pengurus Masjid Beji, Syamsul Anam (85), menuturkan, batu itu tidak terlihat keistimewaannya, namun batu itu bukan batu biasa.
"Batu ini merupakan petilasan yang dipakai tirakat Sunan Giri sebelum menyerang Majapahit. Batu ini sebelumnya berada di Gunung Batang sebelum dipindahkan ke tempat yang sekarang ini," ujarnya.
Usia batu sekitar 400 tahun dan memiliki nilai sejarah cukup dalam bagi perkembangan Islam di Jawa Timur. Diceritakan Syamsul, Joko Samudroadalah nama kecil Sunan Giri. Konon Sunan Giri bertapa di atas batu itu pada abad ke-14 silam untuk meminta petunjuk kepada Allah SWT. Dan, saat itu, Sunan Giri hendak menyerang Kerajaan Majapahit, dengan tujuan utama adalah menyebarkan Islam di tanah Jawa.
Penyerangan yang dilakukan Sunan Giri bertujuan meng-Islamkan masyarakat di tanah Jawa. Dengan bertapa itu, Sunan Giri berharap adanya petunjuk dari Allah SWT.
Meski batu itu sangat bersejarah dan memiliki nilai histori, namun tak banyak orang yang mengetahui hal itu.
"Jarang yang tahu, Mas. Bahkan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik sendiri juga belum tahu. Karena, belum ada yang datang ke sini, apalagi menjadikannya sebagai tempat wisata," pungkasnya.




Jeng Asih, Ratu Pembuka  Aura dari Gunung Muria




 Info & pemesanan:
Padepokan Metafisika Jeng Asih
Jl. Diponegoro 72, Pati – Jawa Tengah 
Jl. Melawai Raya 17, Blok M – Jakarta Selatan
08129358989 – 08122908585      


Sabtu, 18 Maret 2017

Bukit Surowiti, Menjadi Ajang Pemburu Wangsit


Wilayah bukit Surowiti yang berada di Desa Surowiti, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik, Jawa Timur dipercaya sebagai tempat keramat dan wingit. Lokasi ini sering didatangi oleh kelompok pecinta spiritual atau orang yang percaya akan hal mistis. Kawasan tersebut juga dikenal sebagai petilasan Sunan Kalijaga.

Di lokasi perbukitan Surowiti ini terdapat banyak gua (goa) yang sering digunakan oleh orang-orang untuk melakukan ritual dengan maksud tertentu. Bahkan, konon yang datang melakukan ritual di tempat ini para calon pejabat maupun calon legislatif dari partai politik. Tujuannya adalah agar keinginannya terkabulkan.
Biasanya mereka melakukan ritual dengan cara membakar dupa lidi hingga bermalam di pesarean (makam), yang ada di area gua. Salah satu gua atau goa yang dijadikan tempat ritual di Bukit  Surowiti ini adalahGoa Langsih.
Menurut   pemangku adat tiga situs di Surowiti mengungkapkan, yang melakukan ritual di gua Bukit Surowiti bervariasi tujuannya. Para pencari pulung (pencari wangsit) datang dari berbagai kalangan, mulai dari kepala desa, paranormal, pejabat hingga calon legislatif.
"Gua ini sering didatangi orang untuk maksud tertentu, yang biasanya datang bersama para penasihat spiritualnya. Namun, ada juga yang meminta bantuan saya untuk membimbing ritual," ujarnya.
Lebih  juga diceritakan, dulu pernan ada seorang perempuan yang pingin jadi anggota DPRD Gresik yang meminta untuk didoakan. "Ya saya buat ritual untuk membantu dia dari sisi spiritual,” katanya.

Di area Bukit Surowiti memang terdapat makam dari para pengikut atau murid dari Sunan Kalijaga.


Jeng Asih, Ratu Pembuka  Aura dari Gunung Muria





 Info & pemesanan:
Padepokan Metafisika Jeng Asih
Jl. Diponegoro 72, Pati – Jawa Tengah 
Jl. Melawai Raya 17, Blok M – Jakarta Selatan
08129358989 – 08122908585    


Nyi Mas Ratu Gandasari Sang Penyebar Agama Islam di Tlatah Pasundan

Kabupaten Cirebon mempunyai beberapa tempat ziarah yang ramai di kunjungi, salah satunya adalah makam Nyi Mas Ratu Gandasari atau Nyi Mas Panguragan. Makam ini terletak di Desa Panguragan, Kecamatan Arjawinangun, Cirebon dan merupakan sebuah komplek yang menempati lahan tertutup seluas 5 x 5 m dengan ukuran makam 170 x 60 x 73 cm.

Ada beberapa versi tentang tokoh Nyi Mas Ratu Gandasari :

1. Nyi Mas Ratu Gandasari dibawa ke Jawa sejak kecil dan diangkat anak oleh Ki Kuwu Cirebon atau Ki Ageng Selapandan, atau Pangeran Cakrabuana, yang masih keturunan Prabu Siliwangi, dan sebutan Nyi Mas Ratu Gandasari diberikan oleh Sunan Gunung Jati setelah menjadi muridnya.

Karena kesaktian dan kepintaran Nyi Mas Ratu Gandasari, maka Raja Galuh dari Majalengka yang beragama Hindu bisa ditaklukkan. Nyi Mas Ratu Gandasari juga ikut berjasa dalam menyebarkan agama Islam di wilayah Cirebon.

Dalam sebuah sayembara yang diselenggarakan untuk mendapatkan jodoh, Nyi Mas Ratu Ayu Gandasari dikalahkan oleh Syekh Magelung. Keduanya kemudian dijodohkan oleh Sunan Gunung Jati dan menjadi suami isteri.

Pertemuan keduanya terjadi saat Syekh Magelung yang dikenal juga sebagai Pangeran Soka, ditugaskan untuk berkeliling ke arah barat Cirebon. Pada saat ia baru saja selesai mempelajari tasawuf dari Sunan Gunung Jati, dan mendengar berita tentang sayembara Nyi Mas Gandasari yang sedang mencari pasangan hidupnya.

2. Kisah lain menyebutkan bahwa menurut penuturan masyarakat di sekitar makam Nyi Mas Gandasari di Panguragan, bahwa sesungguhnya Nyi Mas Gandasari berasal dari Aceh, adik dari Tubagus Pasei atau Fatahillah, putri dari Mahdar Ibrahim bin Abdul Ghafur bin Barkah Zainal Alim. Ketika kecil beliau diajak serta oleh Ki Ageng Selapandan dan diangkat sebagai anak, saat sepulangnya menunaikan ibadah haji ke Makkah.

3. Kisah lain menyebutkan bahwa Nyi Mas Gandasari, yang sebenarnya adalah putri Sultan Hud dari Kesultanan Basem Paseh (berdarah Timur Tengah), merupakan salah satu murid di pesantren Islam putri yang didirikan oleh Ki Ageng Selapandan.

Karena kecantikan dan kepandaiannya dalam ilmu bela diri, beliau telah berhasil menipu pangeran dari Rajagaluh, sebuah negara bawahan dari kerajaan Hindu Galuh-Pajajaran (yang kemudian menjadi raja dan bernama Prabu Cakraningrat).

Konon Cakraningrat tertarik untuk menjadikannya sebagai istri. Ia pun tak segan-segan mengajak Nyi Mas Ratu Gandasari berkeliling ke seluruh pelosok isi kerajaan, bahkan sampai dengan ke tempat-tempat yang amat rahasia. Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh Pangeran Cakrabuana, orang tua angkat Nyi Mas Ratu Gandasari untuk kemudian menyerang Rajagaluh.
Makam Nyi Mas Ratu Gandasari

Makam Nyi Mas Ratu Gandasari ramai di kunjungi peziarah. Para peziarah tidak hanya dari daerah Cirebon, bahkan banyak dari luar daerah. Salah satu kegiatan rutin yang diadakan dan yang menjadi daya tarik adalah tradisi Haul Ngunjung Buyut Nyi Mas Gandasari. Ada mitos yang mengatakan, apabila warga di desa itu tidak hadir dalam acara perayaan Ngunjung Buyut Nyi Mas Gandasari akan tertimpa bahaya.



Jeng Asih, Ratu Pembuka  Aura dari Gunung Muria




Info & pemesanan:
Padepokan Metafisika Jeng Asih
Jl. Diponegoro 72, Pati – Jawa Tengah 
Jl. Melawai Raya 17, Blok M – Jakarta Selatan
08129358989 – 08122908585